Senin, 30 April 2012

Panduan Menghafal al-Qur'an Ma'had AL-ASKAR


بسم الله الرحمن الرحيم
PANDUAN MENGHAFAL AL-QUR’AN
MA’HAD AL-ASKAR LI TAHFIZH AL-QUR’AN BOGOR

MUQADDIMAH
Siapa yang tidak mau hafal al-Qur’an. Penulis yakin, semua orang mukmin tentu sangat menginginkan bisa hafal al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah cita-cita mereka yang paling tinggi. Telah banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan keutamaan para penghapal al-Qur’an, dan telah banyak pula riwayat hadits dari Nabi SAW yang menceritakan fadhilah-fadhilah menghafal al-Qur’an. Sehingga, sejak zaman diturunkannya sampai kini, telah lahir ribuan hafizh dan hafizhah yang tersebar di negeri-negeri kaum muslimin. Lembaga-lembaga tahfizh didirikan, dan buku-buku ditulis untuk memberikan motivasi, metode, dan tips menghafal al-Qur’an dalam rangka mencetak generasi-generasi huffazh yang tak lekang oleh zaman yang kian suram. Keberadaan mereka di akhir zaman laksana bintang-bintang yang bersinar di tengah kegelapan malam.
Di balik kemudahannya untuk dihafal, al-Qur’an mempunyai cara tersendiri untuk menguji keikhlasan para pembaca dan penghafalnya. Dan di balik ujian ini, setan turun tangan, agar mereka tidak mampu bersabar menghadapi ujian itu. Pada masa-masa ujian itu, lembaga tahfizh yang dipilihnya kadang tidak lagi dapat membantunya, aneka tips dan metode yang tertulis dalam ratusan buku kadang tidak besar lagi pengaruhnya. Ingat, dalam kondisi seperti itu, tidak salah menggantungkan keadaan kepada lembaga, metode, dan tips, tetapi alangkah baiknya apabila menggantungkannya kepada al-Qur’an itu sendiri. Al-Quran adalah lembaga, al-Quran adalah metode, dan al-Quran adalah tips. Karena itu, melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman sewaktu penulis menghapal al-Quran dan bagaimana langkah-langkah penulis dalam menghadapi ujian-ujian yang disuguhkan oleh al-Quran, mulai dari awal hingga akhir.
Untuk lebih akrab, penulis memilih meyajikan tulisan ini dengan bahasa sehari-hari, karena tulisan ini tidak untuk dibaca seperti buku pada umumnya. Tetapi sekedar curhat yang sewaktu-waktu dapat di buka untuk memperbaharui semangat. Karena itu, tinggalkanlah tulisan ini, jika ternyata dengan membacanya, waktu menghapal anda menjadi terganggu. Maka, seiring tangan menghulurkan, semoga Allah SWT melahirkan banyak huffazh melalui tulisan ini, dan menghantarkan kami (penulis, istri, orang tua, karib kerabat, dan guru-guru) kepada keridhoanNya. Seandainya terdapat salah dalam tulisan ini, kiranya pembaca sudi meluruskannya, memaafkan kekhilafan penulis, dan memintakan ampunan kepada Allah SWT untuk penulis. Yang benar dari Allah SWT, dan yang salah dari kealfaan penulis. Wa Billahit Taufiq.
                                                                                                             Bogor, 29 April 2012
                                                                                                                                 
               
                                                                                                                 Pembina Ma’had AL-ASKAR

I.            METODE TAHFIZH AL-QUR’AN MA’HAD AL-ASKAR
Dalam menghafal al-Qur’an setidaknya dibutuhkan kiat-kiat atau langkah-langkah khusus yang harus menunjang setiap orang yang hendak menghafal al-Qur’an untuk dijadikan sebagai acuan dalam menghafal al-Qur’an. Hal ini diperlukan agar diharapkan dapat memudahkan setiap orang yang hendak menghafal al-Qur’an dalam menghafalkannya. Dalam hal ini, ma’had AL-ASKAR mencoba untuk membuat dan menerapkan metode khusus mudah menghafal al-Qur’an kepada setiap santri yang masuk ke Ma’had AL-ASKAR. Di antaranya :
A.      Fase I’dad (persiapan) Sebelum Menghafal al-Qur’an
I’dad artinya persiapan yang harus terpenuhi sebelum melakukan proses menghafal, karena menghafal al-Quran itu merupakan sesuatu yang besar dan tidak mudah. Persiapan ini sangat penting untuk menghindari terjadinya sesutuu yang tidak diinginkan pada saat proses menghapal berlangsung, karena layaknya sebuah tugas besar, dalam menghapal al-Quran sudah dipastikan akan banyak sekali gangguan, rintangan, hambatan, cobaan, dan godaan yang menghadang, khususnya pada pertengahan kedua. Dengan persiapan yang matang, segala bentuk rintangan tidak akan pernah menggoyahkannya sedikit pun. Karenanya pula, peroses menghapal akan menjadi terasa lebih mudah dan ringan. Dalam fase I’dad (persiapan) ini, terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi. Di antaranya :
1.       Menumbuhkan Kecintaan, pengagungan dan keyakinan terhadap al-Qur’an
Segala sesuatu harus dimulai dengan cinta, karena cinta akan membawa kepada keyakinan, pengagungan, perjuangan, pengorbanan, kepatuhan, dan usaha tanpa pamrih, sehingga segala sesuatu yang besar akan tampak kecil, dan segala sesuatu yang berat akan terasa ringan. Misalnya, seorang laki-laki yang sedang dilanda cinta kepada seorang perempuan. Untuk merealisasikan cintanya, tentu apapun cara akan ditempuhnya, meskipun nyawa menjadi taruhan. Capek, sakit, lapar, dan getir tidak akan dirasakannya lagi, karena dia yakin akan manisnya hasil akhir dari perjuangannya itu. Ketika kita bisa melakukan hal itu untuk seseorang yang kita cintai padahal itu tidak sepenuhnya benar, kenapa kita tidak bisa melakukannya untuk al-Qur’an, padahal itu cinta hakiki, karena merupakan perwujudan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan puncak dari segala cinta.
Cinta al-Quran bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Dan untuk memupuk cinta itu kita harus mengetahui dan mengenal al-Quran lebih dekat, juga hati kita harus senantiasa yakin bahwa:
a.       Al-Qur’an adalah kalamullah Yang Maha Agung, Maha Suci, Maha Indah, dan Maha Besar di atas segalanya, sehingga tidak ada lintasan sedikitpun adanya sesuatu yang terkesan melebihi al-Qur’an
b.      Al-Qur’an dapat memberikan segalanya, mewujudkan aneka macam harapan dan cita-cita, satu-satunya sumber kesuksesan dan kebahagiaan, dan memberikan syafaat di akhirat
c.       Menghapal al-Qur’an merupakan tugas suci dan mulia, yang menjadikan penghapalnya disejajarkan dengan malaikat dan dikabulkan doa
d.      Al-Qur’an dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihafal, dan Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi orang yang serius menghafalkannya.
Pengetahuan tentang al-Quran bisa langsung didapatkan dari membacanya setiap hari, hadits-hadits Nabi yang menceritakan fadhilah-fadhilahnya, dan informasi dari ustadz-ustadz, guru-guru, dan lain sebagainya. Upayakan dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan pengetahuan itu agar cinta ini semakin betambah dan tidak tergoyahkan. Juga, jangan lupa berdoa kepada-Nya yang di tangan-Nya tergenggam segala cinta.
2.       Menumbuhkan keinginan dan cita-cita untuk menjadi seorang hafizh al-Qur’an
Yang dimaksud cita-cita disini adalah keinginan yang begitu besar dan kuat untuk menghafal al-Qur’an hingga mengalahkan keinginan-keinginan yang lain. Cita-cita berawal dari cinta dan ketertarikan. Bayangkan, misalnya suatu ketika kita sangat ingin buah nangka, tapi kita tidak bisa mendapatkannya karena uangnnya tidak cukup atau barangnya tidak ada. Tentu buah nangka itu akan terus mengganggu pikiran hingga tidak nyenyak tidur, lalu semua upaya dan kemampuan pun dikerahkan untuk mendapatkannya. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak, atau perempuan yang sedang ngidam. Artinya, keinginan menghafal al-Qur’an itu harus sedemikian besar dan kuat seperti anak-anak menginginkan sesuatu dan perempuan yang sedang ngidam. Atau lebih dari itu, kita sebisa mungkin harus menganggap membaca al-Qur’an sebagai kebutuhan primer, bahkan lebih. Coba lihat orang yang sudah sangat lapar ketika melihat makanan, atau orang yang sudah tidak kuat hendak buang air besar, tentu tidak akan bisa ditahan. Ditahan-tahan pun akan keluar juga. Nah, keinginan menghafal al-Qur’an harus sampai ketingkat itu, tidak dapat ditahan lagi.
Cita-cita yang tinggi dan cinta kepada al-Qur’an harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dengan cara memperkenalkannya, menceritakan keistimewaan-keistimewaanya, keutamaan-keutamaanya, dan kelebihan-kelebihannya, baik dalam bentuk pesan-pesan sederhana, maupun cerita orang-orang shalih terdahulu yang berinteraksi dengan al-Qur’an, sehingga anak-anak mempunyai kontak psikilogis yang baik dengan al-Qur’an sejak dini.
3.       Menbangun dan menata niat serta motivasi dalam jiwa untuk menghafal al-Qur’an
Niat artinya kebulatan hati yang tidak dapat diganggu-gugat untuk menghapal al-Qur’an bersamaan dengan melakukankannya. Tanda-tanda niat yang kuat adalah tidak berubah meskipun keadaan serba tidak mendukung. Misalnya orang tua tidak mendukung, waktu yang sempit karena berbenturan dengan kegiatan lain yang menumpuk, kekurangan biaya, dihina orang, sering sakit, dan IQ yang standar.
Niat yang menggebu-gebu tidak sepenuhnya benar apabila tidak disandarkan kepada keikhlasan. Niat yang benar dalam menghafal al-Qur’an adalah kebulatan hati untuk menghafal dengan tujuan mengharap keridhoan Allah SWT, pahala dari-Nya, dan ampunan-Nya. Karena perjalanan dalam manghafal al-Quran tidak selamanya mulus, kadang ada kesulitan yang benar-benar sulit dan tidak dapat dipecahkan dalam waktu yang singkat, biasanya, dalam menghadapinya, semangat akan berkurang karena mungkin ada rasa kecewa dalam kondisi fisik yang lemah dan otak yang kelelahan. Tetapi kalau niatnya lillahi ta’ala,tentu hal semacam itu tidak seharusnya terjadi. Coba renungkan kata-kata al-Ghazaly di bawah ini:
“Aku menuntut ilmu bukan untuk Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali untuk Allah”
4.       Berusaha untuk memperbaiki bacaan (tahsinul Qira’at)
Salah satu masalah besar dalam menghapal al-Qur’an adalah bacaan yang belum baik. Orang yang membaca al-Qur’annya belum baik relative lebih lambat hapalannya dari pada orang yang sudah baik. Belum baik membaca al-Qur’an maksudnya adalah:
a.       Belum bisa membaca al-Quran sama sekali, disebabkan belum belajar membaca akibat masih anak-anak, tidak ada guru, atau tidak mau belajar
b.      Belum lancar membaca al-Quran, disebabkan jarang membacanya, belum terbiasa, atau tidak serius belajarnya
c.       Belum benar membaca al-Qur’an dari segi tajwid dan makharuj hurufnya, disebabkan belajar tanpa guru atau tidak selesai belajarnya.
Oleh karena itu, sebelum melangsungkan kegiatan menghapal berusahalah semaksimal mungkin untuk memperbaiki bacaan dengan cara belajar yang benar kepada guru yang benar sampai selesai, dan memperbanyak membacanya pagi dan petang. Mungkin ini akan berlangsung lama sesuai besik yang pernah dimiliki.
Untuk anak-anak, seiring dengan belajar tahsin, proses menghapal, khususnya surat-surat pendek, sangat baik dimulai sejak dini meskipun belum bisa membaca al-Qur’an. Kegiatan ini bisa dilakukan langsung oleh orang tuanya, atau orang yang diserahi amanah untuk mendidiknya, juga dapat dibantu dengan pemutaran kaset murattal secara rutin dan teratur. Tanamkan kepada anak-anak kecintaan kepada al-Qur’an sedini dan sebisa mungkin agar tumbuh dengan qalbu qurani.
5.       Menggunakan mushaf al-Qur’an tertentu
Di Indonesia, bahkan di dunia, pada umumnya menghafal al-Qur’an dilakukan dengan menggunakan mushaf. Kecuali di sebagian negeri-negeri kaum Muslimin di Afrika seperti Maroko dan Libya, di sana mereka menghafal al-Qur’an dengan menggunakan sebuah papan. Ayat yang hendak dihapal, mereka tulis di papan tersebut, dan tidakdihapus kecuali telah benar-benar hapal. Di bagian bumi lain, ada yang menggunakan kaset, isyarat gerak, dan computer. Namun apa pun bentuknya, mushaf mutlak diperlukan.
Menghafal al-Qur’an dengan menggunakan mushaf dipandang efektik, karena biasanya menghafal itu lebih mudah dilakukan dengan cara melihat, karena mushaf dapat menampilkan gambar yang asli, mudah ditandai dalam setiap lembarnya, dan mudah dirujuk kembali ketika, misalnya, ada yang lupa. Hal ini menuntut agar proses menghafal dilakukan dengan menggunakan satu jenis mushaf. Tidak boleh berganti-ganti. Karena akan menimbulkan kekeliruan, dan kekacauan gambar yang telah terekam di otak akibat letak dan posisi ayat yang tidak sama.
Dalam memilih dan menentukan mushaf, sebaiknya perpegang kepada mushaf yang setiap sudut dari setiap lembarnya merupakan penutup ayat, atau dinamakan mushaf sudut.Mushaf sudut ini ada yang satu juz-nya sepuluh lembar, dan ada yang delapan lembar. Dan biasanya, yang umum digunakan adalah mushaf yang satu juz-nya sepuluh lembar. Kemudian pilihlah mushaf sudut yang ditulis dengan Rasm Utsmani, seperti mushaf yang diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi. Dengan itu, diharapakan lebih banyak berkah dan nilainnya di sisi Allah SWT.
6.       Menentukan waktu dan tempat menghafal al-Qur’an
Kapan menghafal al-Qur’an? Kalau pertanyaan ini diartikan harus sejak kapan mulai menghafal al-Qur’an? Maka jawabannya, sedini mungkin. Dan manfaatkan masa muda, jangan menunda-nunda. Sampai kapan?. Ya, sampai hafal semuanya. Tidak ada kata terlambat untuk menghafal al-Qur’an. Seandainya ada orang yang mau menghafal al-Qur’an, tapi umurnya hanya tersisi satu menit lagi, maka mulailah menghapal. Tentu, di sisi Allah, yang satu menit ini lebih baik dari pada seluruh umurnya.
Namun, yang dimaksud waktu di sini ini bukan itu, tetapi saat-saat yang baik digunakan untuk menghafal. Secara umum waktu terdiri dari siang dan malam. Dan kita, Umat Muslim, telah mengetahui waktu-waktu tertentu untuk mendirikan shalat yaitu shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, dan isya. Sebenarnya, setiap bagian dari siang dan malam, sepenuhnya mendukung terselenggaranya proses menghafal dengan baik, tapi kadang kondisi kita sendiri yang kurang mendukungnya di waktu-waktu tertentu. Jadi yang ditekankan di sisni adalah harus ada pengaturan waktu sesuai dengan kesibukan yang ada. Kemudian membuat target sesuai kemampuan yang dimiliki, mau berapa lama sampai khatamnya. Setelah itu bisa diperkirakan seharinya harus dapat berapa lembar agar khatam sesuai target.
Pada dasarnya waktu menghapal itu kapan saja, mungkin masing-masing orang akan berbeda. Tapi yang harus ditekankan, waktu menghafal harus lebih banyak dari waktu tidur. Misalnya, rata-rata maksimal tidur setiap orang adalah 8 jam, maka waktu menghafal pun jangan kurang dari 8 jam, bahkan harus lebih. Sebisa mungkin pergunakanlah waktu panjang, yaitu waktu antara shubuh dan zhuhur, dan waktu antara isya dan shubuh. Menghapal jangan menunggu mmud, karena mmud itu tidak selamanya ada. Bisa jadi seharian mmud itu tidak datang-datang, sedangkan waktu terus berjalan. Usahakan bangun malam secara rutin tiap hari, dan manfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu.
Selain waktu, tempat juga sangat mempengaruhi baik dan buruk terselenggaranya kegiatan menghafal. Tempat dapat berarti rumah, masjid, dan sebuah lembaga pendidikan semacam pesantren. Atau lebih khusus lagi, tempat dapat diartikan lokasi tertenftu tempat melangsungkan kegiatan menghaal. Bisa jadi, bagi sebagian orang, suatu lokasi terasa enak dijadikan tempat melangsungkan kegiatan menghafal, dan bagi yang lain, tidak. Dan bisa jadi berpindah-pindah setiap saat. Misalnya, di pesantern, biasanya santri menghafal di dalam masjid, tapi kadang ia lebih enak menghafal di asrama, aula, majlis, halaman pesantren, lokasi tertentu di sekitar pondok, atau sambil berjalan.
Dari tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, tempat dalam pengertian pesantren atau lembaga khusus tahfizh al-Qur’an adalah yang paling penting diperhatikan. Dalam menghafal al-Qur’an kadang harus ada hijrah atau belajar keluar. Kalau lingkungan rumah kondusif, mungkin kegiatan menghafal dilakukan cukup di rumah, tidak harus mesantren keluar. Tapi kalau tidak kondusif, biasanya kegiatan menghapal akan sulit dilakukan, kecuali harus keluar. Meskipun sebetulnya, kondusif dan tidaknya suatu tempat untuk melangsungkan kegiatan menghafal ditentukan oleh diri sendiri. Oleh karenanya, setelah niat menghafal begitu kuat, tentukan pasantren atau lembaga tahfizh mana yang akan dipilih. Tetapi harus konsisten, ketika telah memilih sebuah pesantren, jangan karena alasan tidak betah dan ini, itu, lantas keluar lagi sebelum target tercapai. Karena kalau memandang kehidupan pesantren dengan keinginan hati, maka akan banyak sekali ketidakcocokan di pesantren mana pun kita masuk.
Pesantren memang perlu, tapi hal ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menghafal manakala pesantren yang dihendaki sulit didapatkan. Misalnya, tidak ada biaya, orang tua tidak mengizinkan, atau memang tidak ada yang cocok. Menghafal harus tetap berjalan ketika niat telah bulat, jangan menunggu masuk pesantren yang belum diketahui kapan. Kalau telah mulai mengahafal, kemudian misalnya, kesempatan masuk pesantren yang dikehendaki itu ada, maka tinggal melanjutkan saja. Dan seandainya kesempatan itu tidak ada juga jangan sampai kegiatan menghapal selesai, maka buat apa masuk pesantren, kan al-Quran-nya juga sudah hapal, bukannya masuk pesantren itu buat menghapal?. Tapi kalau ada kesempatan, meskipun sudah hapal juga, masuk pesantren tetap perlu, karena kalau menghapal tanpa guru, biasanya ada saja yang salah.
7.       Menghafal dihadapan guru (Mursyid)
Mursyid adalah orang yang membimbing dalam menghafal, dan tentunya juga harus hafizh. Bimbingan yang dilakukan oleh mursyid biasanya dalam bentuk menerima setoran hafalan, mengontrol dan mengkondisikan hafalan, memberikan saran, nasihat, arahan, dan motivasi, dan memeriksa bacaan. Maka dengan adanya mursyid kegiatan akan berlangsung dengan kontinyu dan dinamis.Selamat menghapal……………!

B.      Fase Proses dan Tata Cara Melangsungkan Kegiatan Menghafal al-Qur’an
Setiap orang mungkin berbeda dalam metode dan cara menghafal. Namun secara umum, menghafal al-Qur’an dapat diartikan sebagai proses atau kegiatan memasukan ayat-ayat al-Qur’an ke dalam hati dan terus memeliharanya. Proses ini membutuhkan kerjasama yang solid antara otak, indra penglihatan atau pendengaran, hati, dan lidah. Pemusatan terpadu antara otak, mata, hati, dan lidah ini penulis namakan dzikir. Hal ini sangat menentukan, artinya, ketika ketiganya tidak bekerja dengan kompak, maka proses ini akan berlangsung dengan lambat, atau bahkan gagal.
Adapun langka-langka yang harus diperhatikan oleh setiap santri dalam melangsungkan proses menghafal adalah :
1.       Konsentrasi (Pemusatan terpadu antara otak, mata, hati, dan lidah disebut dengan metode dzikir). Metode ini dapat dicapai dengan :
a.       Terlebih dahulu, kosongkan pikiran dan konsentrasi. Tenang, ambil posisi yang tepat, tangan memegang mushaf dengan penuh pengagungan dan dalam keadaan suci. Usahakan menghadap qiblat, atau kalau bisa, sebelumnya bersih-bersih, mandi, memakai pakaian yang rapi, dan wewangian. Kemudian buka mushaf dengan membaca taawudz dan basmalah
b.      Tajamkan penglihatan dan pusatkan kepada ayat yang hendak dihafal sedikit demi sedikit hingga dalam pikiran (otak) tidak tergambar apa-apa selain ayat itu. Usahakan, jangan sampai sedikit pun terbuka celah untuk masuknya hal lain ke dalam pikiran.
c.       Baca ayat itu dengan perlahan-perlahan dalam hati, kemudian pejamkan mata dalam keadaan hati tetap membacanya sesuai dengan kemampuannya menangkap gambar yang disampaikan oleh mata melalui otak.
d.      Kemudian lafazkan ayat itu dengan lisan secara perlahan-lahan dan dengan suara pelan, dan terus ulang-ulanglah sesuai kebutuhan hingga melekat dan jinak di lidah dengan baik. Kemudian lafazhkan dengan suara keras. Insyaallah ketika itu anda telah hapal.
Ayat yang sedang dihafal banyak yang tidak sama ukurannya. Ada yang sedang, ada yang panjang, dan ada yang pendek. Proses dzikir pada ayat yang pendek, terkesan mudah, sehingga mengabaikan konsentrasi penuh. Justru ini masalah, karena dikhwairkan akan mudah lupa. Dan ayat yang panjang, kadang-kadang memunculkan perasaan berat, sehingga konsentrasi pun terpecah. Ini pun berbahaya, karena tentu saja akan memperlambat proses dzikir. Dan ayat yang sedang, juga batasan-batasannya relative, bisa jadi menurut sebagian orang sedang, sebagian pendek, dan sebagian lagi panjang. Oleh karena itu, banyaknya ayat untuk sekali proses dzikir jangan dibatasi oleh ayat, tetapi disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Atau alternatif lain adalah dengan cara perkalam atau perbaris. Terserah, mau sekali proses hanya sebaris, dua baris, atau langsung satu halaman.
Selain dengan mata, dzikir pun dapat dilakukan dengan memanfaatkan pendengaran. Namun, tentunya juga perlu ada orang lain yang membacakan ayatnya, baik langsung maupun rekaman. Bahkan jika dzikir pendengaran ini kemudian dilanjutkan dengan penglihatan, maka akan lebih baik lagi, karena antara satu sama lain akan saling melengkapi. Ketika penerimaan pendengaran kurang baik hingga menimbulkan keraguan, maka akan menjadi yakin setelah melihatnya. Begitu juga, ketika penglihatan tidak kuat menangkap gambar ayat, maka pendengaran akan menguatkannya.
Proses dzikir tidak menuntut harus mengetahui makna atau terjemah ayat. Oleh karenanya, meskipun metode dzikir ini awalnya diperuntukan bagi usia tertentu, sebagian anak-anak yang sudah lancar membaca al-Quran pun bisa melakukannya dengan bimbingan mursyid.  Selanjutnya, untuk lebih memudahkan proses dzikir, terlebih dahulu baca ayatnya minimal tiga kali sambil diperhatikan letak posisinya, hukum bacaannya, atau bahkan hayati maknanya bagi yang mampu, termasuk memperhatikan kedudukan setiap lafazhnya menurut tinjauan ilmu Nahwu dan Sharaf.
 
2.       Mujahadah
Proses dzikir tidak selamanya berjalan mulus. Kadang konsentrsi berkurang, pemusatan melemah, stamina menurun, otak lelah, hingga pemusatan terpadu pun berantakan. Dalam kondisi seperti itu, jangan lantas menyurutkan semangat untuk terus berusaha. Maka di sinilah harus ada yang dinamakan Mujahadah, yaitu semangat yang membara, bersungguh-sungguh, bekerja sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan, dan berdaya upaya sampai titik penghabisan.
Sulit dan tidaknya menghafal jangan dipersoalkan, yang penting jangan menghentikan kegiatan menghafal yang sedang berlangsung. Sesulit apa pun harus tetap maju, pantang mundur, meskipun telah gagal lebih dari seribu kali. Karena sebetulnya sulit itu muncul akibat kurang konsentrasi. Coba usahakan buat kondisi setenang mungkin hingga dapat konsentrasi penuh, lalu lakukan dzikir sebagaimana telah dijelaskan di atas, insyaallah akan ada sesuatu yang berbeda. Konsentrasi yang maksimal hanya ada apabila dibiasakan dan dilatih terus-menerus, misalnya dengan cara belajar membiasakan berusaha khusyu’ dalam shalat.
Mujahadah dapat diartikan juga jihad atau berperang melawan musuh-musuh yang menyerang sewaktu kegiatan menghapal hendak dimulai atau sedang berlangsung. Musuh-musuh tersebut antara lain:
a.       Malas, biasanya datang sebelum kegiatan menghafal berlangsung sehingga mengakibatkan kegiatan tertunda bahkan gagal dilaksanakan. Malas adalah pengaruh dari bisikan setan yang diperturutkan. Banyak cara yang dapat dijalankan dalam memeranginya, tapi yang terpenting adalah membendung hati serapat mungkin agar tidak dapat ditembus oleh bisikan setan selembut apa pun.
b.      Mengantuk, biasanya datang di pertengahan menghafal atau sesaat setelah dimulai. Mengantuk ini seringkali terjadi disebabkan kurang istirahat, terlalu capek, dan kebanyakan makan. Tapi adakalanya, mengantuk datang tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Kadang aneh, sebelum mushaf dibuka, tidak mengantuk, mata terasa segar, bahkan sempat tertawa-tawa, tapi ketika mushaf telah dibuka dan ayat telah dibaca, maka mulut mulai menguap, dan mata mendadak lemah seakan-akan tidak pernah segar sebelumnya. Mungkin akibat kurang konsentrasi. Namun yang jelas, mengantuk ini merupakan salah satu bentuk godaan yang dihembuskan setan agar kegiatan menghafal berlangsung tidak sempurna atau gagal.
c.       Melamun, biasanya muncul dalam kondisi capek. Ingin hati cepat selesai 30 juz, apa daya se-halaman pun susah. Otak ngedrop, tidak ada semangat, tugas banyak. Itu pingin bisa , ini pingin bisa, tapi satu pun belum dapat direalisasikan, karena ternyata sangat sulit diwujudkan. Dalam kondisi itu, biasanya melamun dapat sedikit menenangkan. Dalam lamunan tergambar seandainya sudah selesai hapal 30 juz, dapat prestasi, dapat uang banyak, bisnis sukses, jadi sarjana, punya pesantren, hidup penuh kebahagian dan kecukupan. Hai….! Bangun, cita-cita dan harapan tidak akan terwujud dengan melamun. Baca istighfar…….!!! Anda harus malu kalau anda menghafal tapi belum merasakan lelah, letih, dan getirnya, karena berarti anda belum benar-benar Mujahadah.Balaslah semua hambatan itu dengan senyuman, dan tetap semangat.
d.      Keterbatasan Waktu, Setiap orang sehari semalam, waktunya tidak lebih dari 24 jam. Sebagian orang ada yang dapat menyelesaikan hal-hal besar dalam waktunya itu, dan sebagian lagi dalam waktunya itu mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Dalam menghafal al-Qur’an jangan merasa tidak mempunyai cukup waktu. Kesibukan jangan dijadikan alasan. Coba atur waktu anda dengan baik.
e.      Ketidakcocokan Lingkungan, Itu nafsu, jangan dimanjakan. Ketika mengalami suatu kendala, jangan suka menyalahkan, dan mengandai-andai sesuatu yang tidak-tidak.
f.        Sakit, Hal ini sudah biasa bagi santri, dan suka dijadikan alasan untuk tidak mengaji dan tidak menghafal.. Kadang-kadang aneh juga, sebagian santri hanya sembuh apabila telah diidzinkan pulang. Itu tidak baik, jangan dibiasakan. Penyakit harus dilawan pantang mundur.
C.      Senantiasa berharap dan berdoa
Pada saat-saat tertentu, kadang ditemukan proses menghafal yang benar-benar sulit. Sudah masuk, lepas lagi. Sudah hafal, lupa lagi. Sampai mempengaruhi kondisi fisik menjadi tidak stabil, pusing, mual, dan lain sebagainya. Maka, teruskan usaha, sering-sering berdoa, baik di waktu-waktu khusus maupun umum. Mintalah doa sama orang tua, guru-guru, orang-orang shaleh, dan teman-teman. Juga sebaliknya, kita harus mendoakan mereka. Bacalah doa dan shalawat sebelum dan sesudah mengaji dengan khusuk dan khidmat. Renungkan maknanya dengan hati, jangan asal bunyi. Yakinlah bahwa sesungguhnya Allah SWT itu dekat, lebih dekat dari urat nadi, Maha Mendengar setiap doa yang dipanjatkan, dan Maha Mengetahui segala isi hati.
Diriwayatkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib bertaka kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulallah, al-Qur’an sering lepas dari dadaku”. Rasulullah SAW bersabda: “Akan aku ajarkan kepadamu doa-doa yang menyebabkan Allah SWT akan memberikan kemanfaatan bagimu dan orang-orang yang kamu ajari doa-doa ini”. Ali berkata: “Ya, dengan bapakku, engkau ku tebus, dan ibuku”. Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah pada malam jum’at sebanyak empat rakaat. Rakaat pertama membaca al-Fatihah dan Yasin, rakaat kedua membaca al-Fatihah dan al-Dukhan, rakaat ketiga membaca al-Fatihah dan Alif Lam Mim Tanzil, dan rakaat keempat membaca al-Fatihah dan Tabarak. Setelah selesai, memujilah kepada Allah, shalawat ke para Nabi, dan beristighfarlah untuk orang-orang mukmin, kemudian bacalah doa ini:
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَّا أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لاَ يَعْنِينِي،
وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظْرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي أَللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَا ذَا الجَلَالِ
 وَالْأِكْرَامِ، وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلاَلِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ
 قَلْبِي حُبَّ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّي
 وَأَسْأَلُكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِالْكِتَابِ بَصَرِي وَتُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَتُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَتَشْرَحَ بِهِ
 صَدْرِي وَتَسْتَعْمِلَ بِهِ بَدَنِي وَتُقَوِّيَنِي عَلَى ذَلِكَ وَتُعِينَنِي عَلَيهِ فَإِنَّهُ لاَ يُعِينُنِي عَلَى الْخَيرِ
 غَيرُكَ وَلاَ يُوَفِّقَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ
Kerjakanlah selama tiga jum’at, lima, sampai tujuh jum’at, niscaya Allah SWT akan memberikan hapalan yang kuat kepadamu, dan aku belum pernah salah memberikan yang terbaik untuk seorang mukmin”. Setelah tujuh jum’at, kemudian Ali datang kembali dan menceritakan bahwa hapalannya kini sangat kuat, baik al-Quran maupun hadits. Maka Nabi SAW bersabda: “Seorang mukmin, demi Rabb Ka’bah, telah mengajari Abi Hasan, telah mengajari Abi Hasan”.
D.      Meningkatkan Ibadah
Menghafal al-Qur’an adalah amal yang begitu mulia, dan ibadah yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Sudah selayaknya mewujudkannya pun harus dengan aktifitas ibadah pula. Perbanyak kwantitasnya, tingkatkan kwalitasnya. Shalatnya, puasanya harus ditambah. Sabar, dan senantiasa mengharap pertolongan Allah SWT. Berakhlaklah dengan akhlak al-Qur’an. Al-Qur’an jangan sekedar dibaca dan diulang-ulang dengan lidah. Bukan untuk mencari dunia, tapi dicari oleh dunia. Temukan keindahan-keindahan tiada tara di balik setiap lafazhnya, pasti akan terpesona, dan hati tidak bepaling kepada selainnya. Insyallah,hafalan akan kuat dan menentramkan.
E.       Menghindari Maksiat
Salah satu penyebab sulitnya menghafal adalah maksiat. Iman Syafi’i dalam sya’irnya menceritakan pengalamannya dalam menghafal. Katanya, hafalannya begitu buruk, sulit mendapatkannya, dan mudah hilangnya. Lalu ia adukan masalahnya itu kepada gurunya yang bernama Wakai’. Kemudian gurunya menunjukan agar Imam Syafi’i meninggalkan maksiat. Karena sesungguhnya ilmu, terlebih al-Qur’an, adalah cahaya di atas cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang melakukan maksiat.
F.       Tawakkal
Setelah semua usaha dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan mencukupkan. Jangan meresa kecewa ketika hafalan belum dapat padahal sudah berusaha keras. Teruskan usaha itu sambil hati berserah kepada Allah SWT. Allah SWT Maha tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Jangan putus asa dan patah semangat manakala hapalan tak kunjung usai. Baru berapa kali kita mengulang-ulang ayat itu? 10 kali? 20 kali? 100 kali? 1000?, itu masih sedikit, tidak sebanding dengan nikmat Allah SWT yang telah diberikannya. Ketika, misalnya, kita baru hafal pada pengulangan ke-seratus, kita jangan menyangka bahwa pengulangan yang pertama tidak berarti. Justru sebaliknya, satu kali pengulangan adalah lebih berarti dari bumi beserta isinya. Apabila ada seseorang sedang memecahkan batu dengan sebuah palu besar, satu kali pukulan tidak berpengaruh apa-apa, dua kali juga sama saja, tiga kali, empat kali, kemudian setelah pukulan ke-sepuluh baru batu tersebut pecah. Apakah pukulan-pukulan sebelumnya tidak berpengaruh? Jelas, berpengaruh. Ingat, tidak akan ada pukulan yang ke-sepuluh kalau tidak ada pukulan yang pertama, ke dua, dan seterusnya.
II.            METODE IMTIHAN/UJIAN HIFZHIL QUR’AN MA’HAD AL-ASKAR
A.      Tujuan Pengadaan Metode Imtihan Hifzh al-Qur’an
Adapun maksud dan tujuan Ma’had AL-ASKAR menerapkan adanya sistem imtihan hifzhil Qur’an ini adalah Pertama, untuk mengetahui ke-shohihan hafalan santri (Shihhatul hifzh) dari berbagai macam bentuk kesalahan, baik kesalahan dalam harakat, kata, kalimat ataupun ke-alfaan suatu kata dari setiap ayat-ayat al-Qur’an yang sudah dihafalkan. Kedua, untuk mengetahui kualitas hafalan (dhobthul/itqonul Hifhz), khususnya ketika hafalan diuji dengan system acak (rundum). Ketiga, untuk mengetahui mental santri terkait dengan hafalan al-Qur’annya, apakah santri sudah siap untuk kembali diabdikan untuk umat atau belum???.
B.      Sistem Ujian Berjenjang
1.       Imtihan per-satu juz, maksudnya adalah bahwa setiap santri yang sudah menyelesaikan setoran hafalannya sampai dengan satu juz (setiap hafalan bertambah satu juz), santri diberi kesempatan untuk mengikat hafalan satu juz terakhirnya dengan muraja’ah khusus, untuk selanjutnya diuji kualitasnya sebelum menambah dan melanjutkan hafalannya pada juz atau target hafalan berikutnya. Sistem ini berlaku pada setiap santri yang sudah memenuhi target hafalan 1 juz dan siap untuk di uji. Imtihannya dilakukan di depan semua santri, dan yang menguji adalah pembina tahfizh Ma’had AL-ASKAR dan  ditambahkan oleh semua santri yang menyaksikan imtihan tersebut.
2.       Imtihan per-lima Juz, maksudnya bahwa setiap santri yang sudah menghafal al-Qur’an sebanyak lima juz, tidak dibolehkan untuk melanjutkan hafalannya ke juz atau target berikutnya sebelum mengikuti imtihan per-lima juz, dan ini akan berlangsung secara terus-menerus setiap hafalan bertambah lima juz. Lebih jelasnya santri diwajibkan mengikuti imtihan sampai dengan beberapa tahap hingga khatam, Yaitu tahap awal juz 1 s/d juz 5, tahap kedua juz 6 s/d juz 10, tahap ketiga juz 11 s/d juz 15, tahap keempat juz 16 s/d juz 20, tahap kelima juz 21 s/d juz 25 dan tahap terakhir juz 1 s/d 30. Sama halnya dengan sistem imtihan per-satu juz, Sistem imtihan ini juga berlaku pada setiap santri yang sudah memenuhi target hafalan per-lima juz dan siap untuk diuji. Imtihannyapun dilakukan di depan semua santri, dan yang menguji adalah pembina tahfizh Ma’had AL-ASKAR dan  ditambahkan oleh semua santri yang menyaksikan imtihan tersebut.
3.       Ujian Umum atau imtihan ‘amm, adalah lanjutan dari kedua sistem imtihan sebelumnya, yaitu ketika santri sudah mengikuti imtihan tahap pertama dan kedua dari sistem ujian per-lima juz, maka sebelum melanjutkan hafalannya ke target hafalan berikutnya, santri diwajibkan mengikuti ujian umum, yaitu imtihan hafalan dari juz awal sampai dengan juz akhir dari hafalannya. Rinciannya adalah ujian dari juz 1 s/d juz 10, juz 1 s/d juz 15, juz 1 s/d juz 20, juz 1 s/d juz 25 dan juz 1 s/d juz 30 (untuk yang terakhir ini masuk dalam sistem imtihan berikutnya. Sama halnya dengan sistem imtihan per-satu juz dan lima juz, Sistem imtihan ini juga berlaku pada setiap santri yang sudah memenuhi target hafalan per-10 juz, 15 juz dst, dan siap untuk diuji. Imtihannyapun dilakukan di depan semua santri, dan yang menguji adalah pembina tahfizh Ma’had AL-ASKAR dan  ditambahkan oleh semua santri yang menyaksikan imtihan tersebut.
C.      Sistem Ujian Akhir (Komprensif 30 Juz)
Untuk sistem ujian akhir ini, diberlakukan hanya bagi santri yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qur’annya sampai dengan 30 juz. Oleh tim penguji AL-ASKAR, sistem ujian komprensif 30 juz ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama ujian juz 1 sampai juz 10, bagian kedua juz 11 sampai juz 20, dan bagian ketiga adalah juz 21 sampai dengan juz 30.
D.      Standar Kelulusan dalam Imtihan
Terkait dengan standar kelulusan dalam setiap sistem imtihan yang disebutkan sebelumnya, untuk ukuran kelulusannya ditetapkan berdasarkan ketentuan nilai standar yang di tentukan oleh tim penguji imtihan santri Ma’had AL-ASKAR, yaitu :
1.       Mumtaz                      : Nilai 85 s/d 99                  : Maksimal satu kesalahan dalam setiap soal
2.       Jayyid Jiddan             : Nilai 75 s/d 84                  : Maksimal dua kesalahan dalam setiap soal
3.       Jayyid                           : Nilai 65 s/d 74                  : Maksimal tiga kesalahan dalam setiap soal
4.       Maqbul                       : Nilai 55 s/d 64                  : Maksimal 4 / 5 kesalahan dalam setiap soal
5.       Dhoif /Rosib              : Nilai 45 s/d 55                  : Lebih dari lima kesalahan (tidak lulus)

Keterangan :
v  Untuk nilai standar kelulusan di atas juga diberlakukan pada jadwal kegiatan setoran harian santri, khususnya untuk setoran ziyadah (maksudnya, ketika setoran ziyadah harian santri tidak memenuhi standar/terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam hafalan lebih dari 4 atau 5 kesalahan, maka santri diwajibkan untuk mengulang setorannya dihari berikutnya dan tidak diperkenankan untuk menambah/ziyadah hafalan baru berikutnya sebelum memenuhi standar kelulusan atau tahsin hafalan.
v  Ketika program Imtihan hifzhil Qur’an di atas diberlakukan dan diterapkan sesuai ketentuannya, maka insyaAllah kualitas dari hafalan santri akan terus terjaga. Artinya disini kita tidak ragu lagi akan kualitas hafalan santri (mereka akan hafal al-Qur’an dan insyaAllah benar-benar hafal dan langsung lancar). Akan tetapi,
v  Ketika program imtihan Hifzhil Qur’an tersebut berjalan sesuai ketentuannya, maka secara tidak langsung, target Yayasan Ma’had AL-ASKAR yang mengharuskan santri hafal Qur’an dalam jangka 2 tahun, sepertinya akan sulit untuk terpenuhi (kecuali orang-orang khusus yang diberikan keistimewaan lebih oleh Allah SWT). Mengingat banyaknya waktu yang harus digunakan oleh santri untuk mempersiapkan diri dan hafalannya dalam setiap imtihan. Misalnya : untuk imtihan per-1 juz, santri harus mempersiapkan diri minimal 3 hari sampai 1 minggu untuk mendapatkan nilai standar. Dan selanjutnya santri harus mempersiapkan diri untuk mengikuti imtihan per-5 juz dan imtihan umum. Pada imtihan ini, setidaknya santri harus mempersiapkan diri minimal 1 atau 2 minggu bahkan bisa sampai 1 atau 2 bulan untuk mendapatkan nilai standar kelulusan yang Mumtaz atau Jayyid Jiddan. Dengan demikian,
v  Kami dari pembina tahfizhil Qur’an AL-ASKAR dan semua santri mengharap maklum kepada Yayasan Ma’had AL-ASKAR, agar ke depannya tidak membebankan kepada kami semua yang mengharuskan santri khatam hafalan Qur’annya dalam waktu 2 tahun, tapi mengalihkan beban hafalan santri dari segi kualitasnya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan hal itu tetap kami jaga dan usahakan semaksimal mungkin agar target tersebut tetap kita pertahankan. Semua peraturan dan perbaikan sistem imtihan ini dibuat berdasarkan instruksi dari penasehat dan tim penguji hifzhil Qur’an santri Ma’had AL-ASKAR, yang diketuai oleh Ustadz H. Buchori Yusuf Lc., MA.

III.            Kegiatan-kegiatan Penunjang Santri Ma’had AL-ASKAR
  1. Kewajiban mengabdikan diri untuk memakmurkan masjid AL-ASKAR di Pondok Bambu Jakarta dengan bertindak sebagai Muazzin dan Imam, dengan program bergilir dua orang santri setiap bulan.
  2. Megikuti semua program ta’lim yang ada di Ma’had bersama para ustad pembina Ma’had AL-ASKAR, di antaranya : ta’lim bahasa Arab, pengajian kitab kuning, pelatihan tilwatil Qur’an, dan program ta’lim lainnya.
  3.  Mengikuti ta’lim tahunan bersama Syekh Yusuf Muhammad dari Madinah al-Munawwarah di kompleks perumahan AL-ASKAR Pondok Bambu Jakarta.
  4. Program pengajian dan pembacaan surah al-Fatihah dan Yasin, diteruskan dengan pembacaan doa dan selanjutnya pelatihan Muballig dan diskusi agama (bergilir dua orang santri ditugaskan untuk memberikan materi ke-Islaman, bertindak sebagai nara sumber) setiap malam Jumat ba’da magrib sampai dengan selesai. 
  5. Kewajiban untuk memakmurkan masjid-masjid yang ada di daerah setiap hadirnya bulan Ramadhan, sesuai dengan permintaan yang ada setiap tahunnya, dengan bertindak sebagai Imam Sholat Tarawih dan sholat malam lainnya.
  6. Program praktek berkebun setiap hari selasa dan Jumat dengan memanfaatkan lahan yang disediakan oleh Yayasan AL-ASKAR, untuk selanjutnya dijadikan sebagai wadah bersilaturahmi dengan warga setempat.
  7. Kegiatan refreshing, seperti out bond, rihlah pendidikan (berkunjung dan bersilaturrahmi ke pesantren-pesantren sebagai wadah untuk menambah wawasan pendidikan), kerja bakti dan gotong royong bersama warga sekitar, dan lain sebagainya.
  8. Program-program tambahan lainnya, yang Iansya Allah menjadi target kegiatan berikutnya,  di antaranya:
1.       Bertugas menjadi ta’mir (Muazzin dan Imam) masjid di salah satu Masjid Yayasan di Alutista – Cawang, Jakarta.
2.       Bertugas menjadi pembimbing agama Islam khusus untuk para muallaf dari daerah diluar Jawa yang ada di penampingan Muallaf di Jakarta
3.       Dan lain sebagainya, khususnya untuk kepentingan umat.

2 komentar:

  1. panduan yang sangat membantu... semoga ini menjadi motivasi bagi kita semua...

    BalasHapus